oleh

Aku, Kalian dan Kenangan Gerakan Mahasiswa

Editor:

OPINI, Jendela Satu— Sejenak merenung tentang gerakan mahasiswa masa lampau, Fang Iful menulis bahwa eksistensi gerakan saat ini tertidur oleh nyanyian yang menjadi ancaman dan intimidasi dalam dunia pendidikan.

Mirisnya, fakta yang disuguhkan saat ini tentang gerakan mahasiswa sungguh berbeda dengan catatan sejarah, dengan gampang agen of control sosial dibuat diam atas bejatnya pihak perguruan tinggi.

Perguruan tinggi yang seharusnya merupakan lumbung pengetahuan dari sistem pendidikan nasional, diduga justru malah berkontribusi secara langsung terhadap proses pembungkaman tersebut.sehingga menjadi ketakutan tersendiri bagi mahasiswa.

Hal tersebut begitu menyeramkan bagi mahasiswa, IPK tinggi dan cap mahasiswa berprestasi menjadi salah satu alasannya.

Baca Juga:  TPA Tondong Penuh, Bahayakan Kesehatan Warga Sekitar

Seharusnya birokrasi perguruan tinggi mempertimbangkan keputusan tersebut. Tapi ahh sudahlah, karena sepertinya kampus hanya memang dijadikan ladang proses kapitalisasi pendidikan MoU bersama Pemerintah Daerah juga sepertinya sebagai Alibi pembungkaman mahasiswa.

Dalam barometer pendidikan seperti itu, sulit rasanya untuk berharap mahasiswa masih mewarisi tradisi gerakan mahasiswa sebagaimana para pendahulunya yang memiliki kepekaan sosial dan tradisi intelektual dalam kajian-kajian kritis tentang berbagai fenomena politik, ekonomi dan budaya yang tengah berlangsung di masyarakat.

Dalam logika produksi, mahasiswa tidak lebih dari sekadar bahan baku yang diproses melalui industri pendidikan untuk kemudian menghasilkan out–put produksi yang diberi label sarjana.

Baca Juga:  Jelang HUT Korps Brimob Polri ke 76, Batalyon C Gandeng PMI Gelar Donor Darah

Iklim akademik kampus yang penuh kebebasan berekspresi seketika hilang berganti nuansa dengan iklim bisnis yang pragmatis dan transaksional. Hal ini tengah terlihat dipraktekkan dalam lingkungan universitas Negeri ataupun Perguruan tinggi Swasta.

Pola kapitalisasi pendidikan disertakan dengan berbagai tekanan yang terkesan melakukan intervensi massal terhadap para mahasiswa, sehingga gerakan dari agen of control sosial terkungkung di bawah kendali birokrasi.

Tak bisa dipungkiri lagi, pihak kampus telah melakukan proses pelemahan secara massif, terstruktur, dan sistematis terhadap gerakan mahasiswa dengan berbagai kebijakan yang tidak sesuai terhadap proses sebagaimana fungsi dan peranan mahasiswa.

Baca Juga:  Dinkes Sinjai Pantau Kesehatan Warga Saotanre yang Viral di Sosmed

Celakanya, proses pelemahan yang terjadi saat ini justru berawal dari kampus, di mana mereka (birokrasi) semestinya menjadi guru bagi mahasiswa, namun malah menekan kebebasan mahasiswa untuk mendapatkan pendidikan yang layak dan bebas berekspresi.

Seharusnya mahasiswa mampu lebih dewasa dalam menghadapi ujian pendidikan saat ini, sehingga mampu bangkit dengan semangat kritis dalam melihat berbagai macam problematika yang saat ini terjadi dalam dunia pendidikan dan Kemaslahatan Umat.

Sebagai penutup ‘Jika Kau Tak Mampu Membebaskan Suaramu Matilah’

Penulis: Fang Iful, Kordinator AMP (Aliansi Mahasiswa dan Pemuda Sinjai)

Komentar