oleh

Kondisi Bangunan Alun-alun Sinjai Semakin Parah, Pelaku UMKM dan Pengunjung Nilai hanya Dijadikan Ladang Keuntungan

Editor:

SINJAI, Jendela Satu— Aroma tak sedap di Alun-Alun kota Sinjai di keluhkan pelaku UMKM dan pengunjung.

Pasalnya, aroma comberan yang menyengat.

Alun-Alun Kota Sinjai berlokasi di Jl Tondong,Kelurahan Biringere, Kecamatan Sinjai Utara.

Padahal, bangun Alun-alun tak cukup lama beroperasi.

Alun-Alun diresmikan pada Kamis, 25 Januari 2024.

Bangunan Alun-Alun dibangun dengan anggaran sekitar Rp7 miliar.

Meski dengan anggaran fantastis, tak berlangsung lama, kondisi bangunan kini dikeluhkan.

Bagaimana tidak, selain dari ketahanan bangunan, pelaku UMKM juga merasakan aroma yang tidak sedap.

Dari pantauan Jendela Satu.com, Jumat (27/03/2026) aroma yang tak sedap berasal dari pipa pembuangan ke drainase bocor.

Sehingga mengakibatkan genangan di pinggiran jalan.

Genangan comberan itulah yang menyebabkan bau tidak sedap.

Hal tersebut membuat pelaku usaha tidak nyaman untuk berdahan di Alun-Alun.

Salah satu pelaku UMkM di lokasi tersebut SN mengatakan bahwa kondisi tersebut memicu ketidaknyamanan dalam menjalankan bisnisnya.

“Baunya menyengat, sangat mengganggu,” ucapnya.

Pelaku UMKM berbeda DN bahwa iya juga mengalami hal yang sama.

“Makanya biasa kami tidak buka kalau siang karna aromanya menyengat sekali,” jelasnya.

Hal yang sama di sampaikan pengunjung Alun-Alun, Irwan bahwa seharusnya bangunan dan fasilitas ini tidak dibiarkan begitu saja.

“Seharunya tidak dibiarkan berlarut dengan kondisi seperti ini, kami minta agar segerah dibenahi,” katanya.

Selain dari itu dikatakan Irwan, bahwa fasilitas lainnya juga rusak.

“WC sumbat, akhirnya pelapak di dekatnya tidak nyaman,” lanjutnya.

Selain dari sumbat, ada yang di segel.

“Ini sudah lama dikeluhkan, tapi hanya dibiarkan begitu saja, Instansi yang menaungi Alun-Alun ini seakan-akan membiarkan kondisi ini berlarut tanpa bertindak,” ujarnya.

Sehingga Irwan menduga bahwa seakan-akan Instansi yang menaungi Alun-Alun Sinjai hanya jadikan ladan keuntungan semata.

“Tak seharusnya begini, bangunan ini seakan-akan hanya dijadikan ladan keuntungan saja,”

Diketahui, bahwa pelapak di Alun-Alun membayar distribusi.

Di Alun-Alun ini ada 42 Lapak.

Untuk distribusinya, satu lapak, mereka harus membayar Rp 10 perhari.

Sebelumnya, Kepala Bidan Disperindag, Jamiat yang dikonfirmasi terkait dengan fasilitas Alun-Alun hanya menanggapi dengan singkat.

“Keterbatasan anggaran, sehingga untuk biaya pemeliharaan tidak ada,” tulisnya.

Komentar