oleh

Cerita Warga Boja Sinjai di Balik Indonesia Merdeka

Editor:

SINJAI, Jendela Satu— Dibalik dari 80 tahun Indonesia merdeka, masi saja ada warga merasa terlantar.Mereka adalah warga Kampung Boja, Desa Puncak, Kecamatan Sinjai Selatan, Kabupaten Sinjai.

Di wilayah tersebut masih menggunakan alat tradisional dalam menjalankan kesehariannya untuk bertahan hidup.

Dalam keseharian masyarakat di Kampung Boja, hanya bertani dan berkebun.

Warga masih mengandalkan hasil perkebunan untuk bertahan hidup.

Hasil perkebunan di wilayah itu cukup memuaskan.

Selain dari itu warga di Kampung Boja juga biasanya menanam jagung di kebunnnya.

Sebagian warga juga adalah penghasil gula merah.

Di balik dari hasil bumi yang melimpah, masyarakat di wilayah tersebut merasa terisolir.

Infrastruktur jalan di kampung Boja rusak parah.

Bahkan warga Kampung Boja belum pernah merasakan cahaya arus listrik sejak Indonesia merdeka.

Di kampung terpencil tersebut mempunyai fasilitas umum, seperti Sekolah Dasar (SD) dan Masjid.

Kedua fasilitas tersebut dijalankan tanpa arus listrik.

Apalagi pada bulan suci Ramadan ini, warga di kampung tersebut hanya menggunakan alat tradisional untuk menerangi masjid untuk menjalankan ibadah.

Padahal warga di wilayah tersebut aktif membayar pajak.

Masyarakat di wilayah tersebut masih kental dengan adat istiadat.

Gotong royong sesama masyarakat juga masih sangat terjaga.

Warga kampung Boja ketika beraktivitas seharian hanya berjalan kaki.

Hal tersebut disebabkan karna beberapa penataan jalan belum jelas, selebihnya rusak.

Salah satu warga setempat, Nurdin mengatakan bahwa sejak Indonesia merdeka belum merasakan kemerdekaan sesungguhnya.

“Tidak lama lagi Indonesia merdeka yang ke 81 tahun, tapi warga di Kampung Boja serasa terisolir,” katanya, Minggu (22/02/2026).

Lebih lanjut, Nurdin bahwa ia berharap agar juga di perhatikan oleh Pemerintah.

“Kami sudah sampaikan berkali-kali, baru-baru ini kami juga telah menyuarakan keresahan kami ke Kantor Bupati Sinjai,” lanjutnya.

Dengan hal tersebut, Nurdin berharap agar keluhan masyarakat ditindaklanjuti.

“Semoga ini menjadi perhatian kepada yang berwenang, agar berharap agar kesetaraan pembangunan di Sinjai merata,” tandasnya.

Diketahui, bahwa di wilayah tersebut ada 98 Kartu Keluarga (KK). Dari 98 Kk ada kurang lebih 30 penduduk.

Komentar