SINJAI, Jendela Satu— Kampus sering dijuluki sebagai kota yang tidak pernah tidur, pusat intelektualitas yang berdenyut 24 jam.
Namun, belakangan ini, Kampus Universitas Islam Ahmad Dahlan (UIAD) Sinjai mulai memperketat aturan jam malam sampai pukul 22.00.
Di satu sisi, pihak rektorat berdalih demi keamanan, di sisi lain, mahasiswa merasa ruang gerak dan kreativitas mereka sedang dikurung.
Bagi sebagian orang, pukul sepuluh malam adalah waktu untuk beristirahat. Namun bagi mahasiswa, itu adalah waktu di mana diskusi organisasi dan pengerjaan program kerja organisasi justru mencapai puncaknya. Sayangnya, aktivitas itu kini harus terhenti lebih awal.
Kebijakan pembatasan jam operasional kampus atau jam malam kini kembali menjadi isu hangat. Alasan klasiknya, keamanan dan efisiensi energi.
Pihak birokrasi kampus menyatakan bahwa langkah ini diambil untuk menekan angka kriminalitas di area kampus serta mencegah penggunaan fasilitas untuk kegiatan yang tidak terpantau.
Mujahid Turaihan (Presiden Mahasiswa Dema UIAD Sinjai mengatakan pembatasan jam malam ini sangat menghambat arah gerak mahasiswa dalam menjalankan kegiatan organisasi di malam hari, karena mahasiswa yang aktif berorganisasi hanya memiliki waktu berkegitan dimalam hari karena aktivitas perkuliahan di siang hari.
Selain dari pada itu, Rehan juga mengatakan beberapa kritikannya,
kekhawatiran keaktifan.
“Banyak riset dan karya kreatifitas membutuhkan waktu yang fleksibel dan durasi panjang.Keamanan memaksa mereka berkegiatan malam diluar kampus justru lebih berbahaya dibandingkan tetap berada di dalam area kampus yang terjaga. Seakan-akan ruang demokrasi membatasi jam malam dianggap sebagai cara halus untuk meredam konsolidasi mahasiswa dan gerakan organisasi,” ucap Rehan, Senin (09/03/2026).
Terlebih lagi kebijakan yang dikeluarkan dilanggar oleh pihak birokrasi itu sendri, baru baru ini pihak birokrasi mengadakan Kegiatan Malam yaitu Baitul Arqam Struktural yang di duga kegitan itu masih berlangsung di pukul 00.00 Wita.
“Kampus seharusnya menjadi laboratorium peradaban, bukan penjara dengan jadwal yang kaku. Menutup akses dan membatasi penggunaan fasilitas kampus sama saja dengan memutus urat nadi produktivitas kami,” Tutup Mujahid Turaihan.





Komentar