oleh

Proyek Irigasi Pompengan Jeneberang Diduga Bermasalah, APH Diminta Turun Tangan

Editor:

SINJAI, Jendela Satu— Saluran irigasi Pompengan Jeneberang impres tahap III kembali tuai sorotan.Kali ini datang dari aktivis Serikat Mahasiswa Muslimin Indonesia (DPC SEMMI) Sinjai, Jumardi.

Proyek Irigasi yang berlokasi di Desa Bonto Salama, Kecamatan Sinjai Barat itu diduga mengindahkan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3).

“Pekerja dilokasi tersebut tidak memakai helm, sepatu, rompi hingga kaos tangan,” ucap Jumardi.

Hal tersebut dinilai membahayakan keselamatan dan melanggar aturan kerja.

Selain itu, pembangunan proyek irigasi Pompengan Jeneberang khususnya pada pekerjaan lantai dasar tidak merata.

“Lantai irigasi dikerja dengan lebar bervariasi. Mulai dari ukuran 50 cm hingga sesuai ketentuan 100 cm,” jelasnya.

Olehnya itu Jumardi meminta Aparat Penegak Hukum (APH) untuk turun ke lokasi memeriksa proyek miliaran tersebut.

“Besar harapan kami proyek tersebut ditindak,” harapnya.

Padahal proyek tersebut menelan anggaran fantastis.

Anggaran bersumber dari Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS).

Hal ini ditanggapi oleh Pelaksana kerja, PT. Waskita Karya, Zulkarnaim.

“Terkait pembangunan irigasi yang ukuran lantainya 50 Cm disebabkan karna lokasi yang mistis,” tulisnya saat di konfirmasi WhatsApp (WA), Minggu (08/03/2026).

Lebih lanjut, Zulkarnaim bahwa hal tersebut sudah ada pembahasan lebih awal.

“Hal tersebut diperhitungkan debit air dan tinggi muka air, saluran yang disimpulkan tidak perlu dibongkar dengan catatan lantai exitingnya dipertahankan elevasinya,” jelasnya.

Dikatakan, Zulkarnaim bahwa proyek tersebut berjumlah 39 titik dengan total anggaran Rp 93 Miliar.

“Jadi kami kontrak langsung sama owner, lalu anggarannya kami glondongan ke semua lokasi langsung, tidak perlomasi,” tandasnya.

Sebelumnya, warga setempat juga menyoroti dari proyek tersebut.

“Kalau pembangunannya tidak merata, artinya debit air pada lokasi tersebut akan melup nantinya, buat apa diperbaiki jika tidak sesuai ketentuan,” ucap warga Sinjai Barat, KM.

selain dari itu, KM, mengatakan bahwa ketahanan bangunan tersebut juga tidak maksimal karna campuran yang digunakan tidak merata.

“Campurannya kurang aduk lalu digunakan,” jelasnya.

Komentar