SINJAI, Jendela Satu— Riad map KOHATI bukan hanya sekadar dokumen arah gerak organisasi, tetapi merupakan gambaran tentang bagaimana perempuan ditempatkan, dibentuk, dan diarahkan dalam ruang perjuangan HMI serta dalam realitas sosial Indonesia. KOHATI harus dilihat sebagai ruang strategis, bukan sekadar simbol keberadaan perempuan dalam organisasi.
Selama ini, tidak bisa dipungkiri bahwa posisi perempuan dalam banyak ruang, termasuk organisasi, masih sering berada pada posisi yang kurang dominan. Dalam konteks ini, KOHATI hadir sebagai jawaban, tetapi kehadirannya akan kehilangan makna jika tidak memiliki arah yang jelas dan terukur. Maka, road map menjadi penting sebagai landasan untuk memastikan bahwa KOHATI tidak hanya bergerak, tetapi bergerak dengan tujuan yang jelas dan berdampak.
Dalam lingkup internal HMI, road map KOHATI seharusnya menitikberatkan pada pembentukan kualitas kader perempuan yang utuh. Artinya, kader tidak hanya dibentuk secara struktural atau administratif, tetapi juga secara intelektual, emosional, dan spiritual. Perempuan dalam HMI harus mampu berpikir kritis, memiliki kesadaran diri yang kuat, serta berani mengambil peran strategis. Tanpa itu, KOHATI hanya akan melahirkan kader yang hadir secara kuantitas, tetapi lemah secara kualitas.
Selain itu, penting juga untuk menyoroti bahwa konsep diri perempuan menjadi fondasi utama dalam menjalankan road map ini. Banyak perempuan yang sebenarnya memiliki potensi besar, tetapi terhambat oleh keraguan terhadap dirinya sendiri. Di sinilah peran KOHATI menjadi sangat penting, yaitu membangun konsep diri yang positif, sehingga perempuan tidak lagi merasa sebagai “pelengkap”, tetapi sebagai subjek utama dalam perubahan.
Dalam konteks yang lebih luas, yaitu Indonesia, road map KOHATI harus mampu menjawab berbagai persoalan perempuan yang masih kompleks. Mulai dari ketimpangan pendidikan, kekerasan terhadap perempuan, hingga keterbatasan akses ekonomi. KOHATI tidak bisa hanya berhenti pada diskusi atau kajian, tetapi harus mampu menghadirkan aksi nyata yang menyentuh langsung kehidupan perempuan.
Menurut saya, salah satu arah penting yang harus ada dalam road map KOHATI adalah penguatan kemandirian perempuan, khususnya dalam aspek ekonomi. Kemandirian finansial bukan hanya soal kemampuan menghasilkan uang, tetapi juga soal kebebasan dalam menentukan pilihan hidup. Perempuan yang mandiri secara ekonomi cenderung memiliki posisi tawar yang lebih kuat, baik dalam keluarga maupun masyarakat.
Namun, kita juga perlu jujur bahwa tantangan terbesar bukan pada penyusunan road map, melainkan pada implementasinya. Banyak organisasi memiliki konsep yang bagus di atas kertas, tetapi lemah dalam pelaksanaan. KOHATI harus mampu membangun konsistensi gerakan, memastikan adanya keberlanjutan kaderisasi, serta menciptakan ruang yang aman dan suportif bagi perempuan untuk berkembang.
Selain itu, KOHATI juga perlu adaptif terhadap perubahan zaman. Di era disrupsi saat ini, perempuan dihadapkan pada tantangan baru, seperti tekanan media sosial, standar kehidupan yang semakin tinggi, serta persaingan global. Road map KOHATI harus mampu menjawab tantangan ini dengan pendekatan yang relevan dan inovatif, tanpa kehilangan nilai-nilai dasar keislaman dan keindonesiaan.
Pada akhirnya, saya melihat bahwa road map KOHATI bukan hanya tentang organisasi, tetapi tentang masa depan perempuan itu sendiri. KOHATI harus menjadi tempat lahirnya perempuan-perempuan yang memiliki kesadaran kritis, konsep diri yang kuat, serta keberanian untuk mandiri dan berdaya. Perempuan yang tidak hanya mampu bertahan dalam sistem, tetapi juga mampu mengubah sistem itu menjadi lebih adil.
Jika road map ini dijalankan dengan sungguh-sungguh, maka KOHATI tidak hanya akan berkontribusi bagi HMI, tetapi juga bagi Indonesia. Karena perempuan yang sadar, kuat, dan mandiri adalah kunci bagi lahirnya masyarakat yang lebih seimbang dan berkeadilan.



Komentar