oleh

Auditorium Mewah UMSi Tuai Sorotan dari BEM: Antara Visi Akademik dan Realitas Pemanfaatan?

Editor:

SINJAI, Jendela Satu— Pembangunan auditorium Universitas Muhammadiyah Sinjai (UMSi) tuai sorotan.Pasalnya, bangunan yang menelan anggaran Rp 11 miliar tersebut hanya jadi tontonan Mahasiswa.

“Bangunan ini hanya dipandang sebagai upaya pengembangan infrastruktur di kalangan civitas akademika,” Elsa Arif ma’ruf pengurus BEM UMSi.

Di satu sisi, gagasan ini dinilai sebagai langkah strategis menuju kampus unggul, sebagaimana disampaikan oleh Rektor UMSi, Umar Congge.

Namun bangunan tersebut jadi pertanyaan terkait prioritas pembangunan dan alokasi anggaran, mengingat masih adanya kebutuhan lain yang juga penting untuk diperhatikan.

“Auditorium tetap dilanjutkan dengan visi besar untuk meningkatkan kualitas akademik dan memperkuat daya saing institusi, namun pemanfaatan untuk mahasiswa minim,” jelasnya, Sabtu (11/04/2026).

Padahal kata Elsa, gedung berlantai tiga ini dirancang sebagai fasilitas representatif yang mendukung berbagai kegiatan Tri Dharma Perguruan Tinggi, seperti seminar, wisuda, kuliah umum, dan aktivitas ilmiah lainnya.

“auditorium diharapkan dapat berfungsi secara sosial, dengan memberi ruang bagi masyarakat dalam kegiatan tertentu, sehingga mempererat hubungan antara kampus dan lingkungan sekitar,” harapnya.

Namun demikian, setelah pembangunan selesai, muncul dinamika baru dalam pemanfaatannya.

Dalam praktiknya, mahasiswa yang ingin menggunakan auditorium untuk kegiatan akademik dikenakan biaya tertentu.

“Kebijakan ini memunculkan beragam tanggapan, terutama dari organisasi mahasiswa yang memiliki keterbatasan anggaran. Elsa menegaskan bahwa kebijakan biaya tersebut justru membatasi kreativitas mahasiswa dan mendorong mereka untuk mencari alternatif di luar kampus.

“Seharusnya fasilitas kampus yang dibangun dengan anggaran besar dapat diakses secara lebih terbuka bagi mahasiswa. Jangan sampai pembangunan megah justru menjadi penghalang bagi mahasiswa untuk berinovasi,” ujar Elsa.

Pernyataan tersebut menunjukkan adanya ketegangan antara tujuan awal pembangunan dan realitas pemanfaatannya di lapangan, sekaligus membuka ruang evaluasi terkait kebijakan pemanfaatan fasilitas baru ini.

Komentar