oleh

Dosen UMSi Tanggapi Sorotan Mahasiswa Terkait Penggunaan Fasilitas Gedung Mewah

Editor:

SINJAI, Jendela Satu— Penggunaan fasilitas gedung Maraja Convention Center (UMCC) Universitas Muhammadiyah Sinjai (UMSi) yang disorot oleh pengurus Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) mendapat tanggapan dari pihak kampus.Hal tersebut disampaikan oleh Wakil Rektor III, Dr. Mochamat Nurdin.

Nurdin mengatakan bahwa fasilitas gedung UMCC UMSi terbuka untuk kalangan umum.

“Terbuka bagi semua pihak dan berbagai kegiatan yang membutuhkan kapasitas peserta yang besar dan daya tampung kurang lebih 1000 peserta,” tulisnya, Senin (13/04/2026).

Lebih lanjut Nurdin mengatakan bahwa gedung tersebut tidak hanya untuk sebatas kegiatan akademik.

“Jadi dalam pengelolaan membutuhkan biaya pemeliharaan yang berkelanjutan, butuh biaya yang cukup besar,” jelasnya.

Bahkan dikatakan Nurdin bahwa yang paling pokok adalah penggunaan tenaga listrik yang sangat besar menopang penggunaan AC yang sangat Banyak, videotron, soundsystem dan kebersihan.

Dikatakan Nurdin bahwa ke depannya UMCC akan dilakukan secara terpisah dan mandiri dengan tetap UMSi sebagai pemiliknya.

Hal tersebut sebagaimana yang di amanahkan oleh majelis Diktilitbang PP Muhammadiyah bahwa pengelola PTM tidak boleh menitikberatkan pada pembayaran perkuliahan mahasiswa, tetapi juga harus ditopang dengan unit-unit usaha mendukung dan menopang kegiatan akademik agar berkelanjutan.

Adapun penggunaan itu sesuai dengan aturan SOP dan menjadi dasar dan penggunaan terbuka umum bagi mahasiswa.

Sebelumnya, diberitakan Pembangunan auditorium Universitas Muhammadiyah Sinjai (UMSi) tuai sorotan.

Pasalnya, bangunan yang menelan anggaran Rp 11 miliar tersebut hanya jadi tontonan Mahasiswa.

“Bangunan ini hanya dipandang sebagai upaya pengembangan infrastruktur di kalangan civitas akademika,” Elsa Arif ma’ruf pengurus BEM UMSi.

Di satu sisi, gagasan ini dinilai sebagai langkah strategis menuju kampus unggul, sebagaimana disampaikan oleh Rektor UMSi, Umar Congge.

Namun bangunan tersebut jadi pertanyaan terkait prioritas pembangunan dan alokasi anggaran, mengingat masih adanya kebutuhan lain yang juga penting untuk diperhatikan.

“Auditorium tetap dilanjutkan dengan visi besar untuk meningkatkan kualitas akademik dan memperkuat daya saing institusi, namun pemanfaatan untuk mahasiswa minim,” jelasnya.

Padahal kata Elsa, gedung berlantai tiga ini dirancang sebagai fasilitas representatif yang mendukung berbagai kegiatan Tri Dharma Perguruan Tinggi, seperti seminar, wisuda, kuliah umum, dan aktivitas ilmiah lainnya.

“auditorium diharapkan dapat berfungsi secara sosial, dengan memberi ruang bagi masyarakat dalam kegiatan tertentu, sehingga mempererat hubungan antara kampus dan lingkungan sekitar,” harapnya.

Namun demikian, setelah pembangunan selesai, muncul dinamika baru dalam pemanfaatannya.

Dalam praktiknya, mahasiswa yang ingin menggunakan auditorium untuk kegiatan akademik dikenakan biaya tertentu.

“Kebijakan ini memunculkan beragam tanggapan, terutama dari organisasi mahasiswa yang memiliki keterbatasan anggaran. Elsa menegaskan bahwa kebijakan biaya tersebut justru membatasi kreativitas mahasiswa dan mendorong mereka untuk mencari alternatif di luar kampus.

“Seharusnya fasilitas kampus yang dibangun dengan anggaran besar dapat diakses secara lebih terbuka bagi mahasiswa. Jangan sampai pembangunan megah justru menjadi penghalang bagi mahasiswa untuk berinovasi,” ujar Elsa.

Pernyataan tersebut menunjukkan adanya ketegangan antara tujuan awal pembangunan dan realitas pemanfaatannya di lapangan, sekaligus membuka ruang evaluasi terkait kebijakan pemanfaatan fasilitas baru ini.

Komentar