Opini, Jendela Satu— Menjadi wanita yang tumbuh tanpa ibu adalah tentang belajar mengeja kata “pulang” tanpa pernah benar-benar sampai ke alamatnya. Ia adalah seni membangun rumah di atas fondasi kerinduan yang tak bertepi.Labirin Tanpa Peta. Bagi banyak wanita, ibu adalah cermin pertama untuk melihat siapa diri mereka. Tanpa kehadirannya, seorang wanita terpaksa memecahkan kaca dan menyusun kepingannya sendiri. Ia belajar bersolek dari bayangan di air, belajar memasak dari aroma tetangga, dan belajar menjadi kuat dari kerasnya aspal jalanan. Ia adalah peta yang digambar sendiri di atas kertas yang terbakar.
Ruang Kosong yang Berisik
Kesunyian tanpa ibu tidak pernah benar-benar senyap. Ia penuh dengan pertanyaan-pertanyaan yang tak sempat terjawab.
“Bagaimana cara menenangkan tangis bayi pertamaku nanti?”
“Apakah aku sudah cukup pantas menjadi wanita?”
“Apakah bentuk mataku mirip dengannya saat ia tertawa?”
Perjuangan ini bukan hanya soal ketidakhadiran fisik, tapi tentang mencari pembenaran atas eksistensi diri di tengah kekosongan.
Menjadi Akar Sekaligus Bunga,-
Seorang wanita tanpa ibu sering kali harus menjadi “ibu” bagi dirinya sendiri jauh sebelum waktunya. Ia merawat lukanya dengan tangan yang masih gemetar.
“Ia tumbuh menjadi pohon yang kuat bukan karena tanahnya subur, tapi karena ia tahu tak ada tangan yang akan menangkapnya jika ia tumbang oleh badai.”
Ia belajar bahwa kelembutan bukanlah warisan yang diberikan, melainkan pilihan yang ia ambil meski dunia bersikap kasar padanya. Ia memetik keberanian dari rasa sepi, mengubah air mata menjadi bensin untuk terus berlari.
Pada akhirnya, opini ini bermuara pada satu kekaguman: Ketangguhan.
Ada keindahan yang pedih pada wanita yang mampu mencintai dengan tulus padahal ia kehilangan sumber cinta pertamanya. Ia adalah bukti bahwa cahaya bisa tetap masuk melalui retakan. Ia tidak hanya bertahan hidup, ia sedang menulis ulang takdir, memastikan bahwa jika suatu saat ia menjadi ibu, rantai kesepian itu akan putus di tangannya.
Ia adalah puisi yang ditulis oleh kerinduan, namun dibaca oleh kemenangan.






Komentar