SINJAI, Jendela Satu— Aktivis ramai-ramai desak Bupati Sinjai copot Pelaksana Tugas (PLT) Kepala Puskesmas (Kapus) Samaenre, Kecamatan Sinjai Selatan, Kabupaten Sinjai.
Bagaimana tidak, pasien yang ingin dirawat diduga ditolak oleh Puskesmas tersebut.
Hal tersebut memicu ketegakan dikalangan aktivis.
Seperti halnya yang disampaikan M.Agung Wirawan bahwa hal tersebut tak seharusnya dilakukan oleh kalangan Puskesmas.
“Ini sudah mencoreng pelayanan Dinas Kesehatan, dengan alasan yang tidak jelas,” Ujar Mahasiswa Sinjai, Senin (22/06/2026).
Lebih lanjut Agung bahwa pernyataan Kapus Samaenre yang dianggap mencoreng nama baik Jajaran Dinas Kesehatan di Sinjai.
“Pernyataan Kapus Samaenre terkait dengan belum cukup lima hari sakit, lalu tidak dirawat, ini sangat keliru, apalagi ditolak,” jelasnya.
Hal yang sama di sampaikan oleh Ketua, Nabil bahwa hal tersebut terjadi tak berselang lama.
“Inikan bukan yang pertama kalinya, bahkan sudah beberapa kali dikeluhkan,” jelas, Nabil.
Sehingga, dengan ketidakmaksimalan pelayanan kesehatan, Nabil meminta agar
Kapus Samaenre dicopot.
“Kami meminta kepada Bupati Sinjai untuk segera mengambil langkah konkrit dengan mencopot Kapus Samaenre,” tegasnya.
Dikatakan Nabil bahwa hal tersebut dilakukan untuk memaksimalkan pelayanan dan ramah kesehatan untuk masyarakat ke depannya.
“Masyarakat butuh pelayanan yang maksimal, olehnya itu kami meminta agar Bupati Sinjai mengambil langkah tegas untuk pelayanan kesehatan yang ramah kedepannya,”
Hal senada yang disampaikan oleh, Mustawakkal sekaligus warga Kecamatan Sinjai Selatan bahwa ini sudah sangat mencoreng bagi jajaran kesehatan.
“Sudah seharunya Bupati Sinjai mengambil langkah tegas dan menetapkan Kapus baru di Puskesmas Samaenre,” harapnya.
Dengan pernyataan Kapus, juga dinilai membuat aktivis kecam keras
“Artinya, Kepala Puskesmas Samaenre tidak mampu mengatasi keresahan masyarakat di wilayah tersebut. Orang sakit parah malah tidak mendapatkan perawatan yang semestinya. Logikanya tidak masuk akal, apa harus menunggu pasien koma atau terjadi hal yang tidak diinginkan baru mau dirawat?” tegas Nizam.
Sebelumnya, Hal ini dikeluhkan karena adanya dugaan penolakan rawat inap terhadap seorang pasien yang tengah dalam kondisi sakit parah.
Keluhan tersebut diungkapkan oleh Malik, salah satu kerabat pasien. Adiknya yang sudah beberapa hari terbaring sakit parah sengaja dibawa ke Puskesmas Samaenre dengan harapan bisa mendapatkan penanganan medis yang maksimal.
Namun, setibanya di sana, pihak puskesmas justru tidak mengizinkan pasien untuk dirawat inap.
“Adik saya sakit parah, saya bawa ke Puskesmas malah ditolak untuk dirawat (rawat inap). Saya sudah sampaikan kepada perawat bahwa adik saya sudah beberapa hari sakit, bahkan keluarga kami sudah menjelaskan kondisinya secara detail, namun tetap ditolak,” ujar Malik dengan nada kecewa, Kamis (18/06/2026).
Menanggapi tudingan tersebut, PLT Kepala Puskesmas Samaenre, Ernawati, memberikan klarifikasi.
Menurutnya, pasien tersebut sebenarnya sudah diberikan obat oleh dokter yang bertugas.
Berdasarkan hasil pemeriksaan medis saat itu, dokter menyimpulkan bahwa kondisi pasien masih memungkinkan untuk menjalani rawat jalan di rumah.
“Kondisi pasien masih memungkinkan dirawat di rumah, jadi advis (saran) dari dokter bisa pulang. Pasien sudah dikasi obat. Tapi jika sudah minum obat keadaannya tidak mengalami perbaikan, disarankan untuk kembali dirawat di Puskesmas. Menurut keterangan dokter, pasien masih bisa rawat jalan,” jelas Ernawati melalui pesan konfirmasi, Kamis (18/06/2026).
Di sisi lain, Pelaksana Tugas (PLT) Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Sinjai yang juga menjabat sebagai Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Sinjai, Andi Jefrianto Asapa, menegaskan bahwa pihaknya tidak akan tinggal diam.
Pihak Dinas Kesehatan berjanji akan segera turun tangan untuk mendalami kasus ini.
“Kami akan lakukan investigasi terkait kejadian (dugaan penolakan) tersebut,” tulis Andi Jefrianto singkat saat dimintai konfirmasi mengenai langkah lanjut penanganan masalah ini.






Komentar